Seri TV Disney+ "Battle of Fates", Acara Adu Ramal dari Ahli Supernatural Korea
Korea Selatan kembali menghasilkan reality show bagus setelah serial "Physical: 100" di Netflix. Kali ini menggunakan tema pertandingan adu spiritual yang berjudul "Battle of Fates" (diterjemahkan menjadi "Pertarungan Takdir", judul asli: 운명전쟁49 atau Unmyeong Jeonjaeng 49). Acara Battle of Fates ini ditayangkan pada saluran Disney+ di awal tahun 2026.
Battle of Fates benar-benar berbeda dari format survival biasa, karena ini sebuah kompetisi survival bertema supranatural yang mempertemukan 49 orang pembaca nasib (fate readers) terbaik di Korea Selatan. Acara ini langsung menjadi fenomena, bahkan memecahkan rekor sebagai series premiere paling ditonton sepanjang masa di Disney+ Korea, mengalahkan drama hits seperti "Moving".
![]() |
| Para Peserta Battle of Fates |
Konsep Unik: Survival di Dunia Ramalan dan Spiritual
Berbeda dengan survival show seperti Produce 101 atau Physical: 100 yang fokus pada bakat musik, fisik, atau skill fisik, Battle of Fates menguji kemampuan supranatural para peserta. Pertanyaannya sederhana tapi menantang: Apakah nasib benar-benar bisa dibaca? Dan siapa yang benar-benar bisa melakukannya?
49 peserta ini adalah para master dari berbagai aliran ramalan tradisional dan modern Korea:
- Syaman (kadang disebut juga Mudang, shaman Korea)
- Saju / Myeongri
- Tarot readers yang menggunakan kartu tarot
- Physiognomists (pembaca wajah / face reading)
- Peramal nama
- Ahi Numerology
- Ahli astrologi (zodiak, dll)
- Ahli ramalan tangan (palmistri)
- Qimen Dunjia
- Bahkan ada yang spesialisasi membaca telapak kaki (foot reading)
- Dan keahlian lainnya... (fengshui, Osteomancy, Da Liu Ren, i-ching, zhou yi i-ching, ahli meramal dengan beras dan koin, energi/aura reading, dll)
Yang paling banyak pesertanya pada acara ini adalah ahli-ahli yang dari kalangan Syaman, seseorang ahli supernatural yang bisa berkomunikasi dengan roh leluhur atau dewa, kerasukan, memanggil roh, dll. Mungkin di Indo mirip peran dukun, sedang orang chinese sebutnya Tang-ki / Jitong / Tatung. Syaman ini biasanya berpakaian tradisional (kostum hanbok), tapi di acara ini ada penampakan Syaman gen-z yang berpakaian fashion stylish. Perlengkapan Syaman umumnya paling banyak, ada lonceng yang disebut mudangbangul, terus kain 12 warna, dll. Keahlian mereka dalam hal membaca/meramal nasib menggunakan bisikan spiritual (dewa/leluhur) biasa disebut Shinjeom.
Kedua paling banyak adalah Saju, ini mirip Bazi-nya China, jadi sering disebut Bazi versi Korea, melihat empat waktu seseorang seperti tahun, bulan, hari, dan jam lahir (empat pilar). Kemudian baru melihat lima elemen, yin-yang, dan lainnya. Biasa ciri-ciri seorang ahli Saju adalah menggunakan dan membawa Laptop atau Tablet kemana-mana.
Jenis peserta ketiga paling banyak adalah pembaca kartu Tarot alias tarot reader. Ini profesi pembaca nasib yang mungkin paling dianggap remeh awal-awal, tapi ternyata cukup bisa bersaing di acara ini. Cuma saya rasa kurang konsisten.
Mereka bersaing dalam format turnamen eliminasi, di mana setiap episode menghadirkan misi-misi aneh dan menegangkan untuk menguji akurasi ramalan mereka. Peserta harus membaca nasib orang lain (bisa peserta lain, MC, atau kasus misterius yang disiapkan tim produksi), memprediksi hasil, atau bahkan menghadapi tantangan psikologis dan spiritual yang intens.
Beberapa misi ikonik yang banyak dibicarakan:
- Membaca nasib masa depan dan masa lalu seseorang hanya dari foto atau data minimal
- Ramalan kelompok di mana salah prediksi bisa mengeliminasi tim
- Tantangan "battle of qi" atau energi spiritual
- Memprediksi kejadian atau membaca aura
- Meramal kehidupan dan karakteristik seseorang
Konsepnya digambarkan sebagai "spirit-possessed survival show" — survival di mana nasib para pembaca nasib sendiri dipertaruhkan.
Pembawa Acara dan Juri
Acara ini dipandu oleh line-up MC dan Juri yang kuat dan cocok dengan tema mistis:
Jun Hyun-moo (veteran variety show yang dikenal kritis dan lucu), Park Na-rae (komedian yang sering bawa energi chaotic), Park Ha-seon, Shindong (Super Junior), Kang Ji-young, dan Lee Ho-sun.
Mereka tidak hanya host, tapi juga sering ikut "dibaca" nasibnya oleh peserta, yang menambah drama dan momen lucu sekaligus menyeramkan.
Mengapa Battle of Fates Begitu Menarik?
Di tengah banjirnya survival show idol, dating, atau physical challenge, Battle of Fates menawarkan sesuatu yang segar: menggabungkan elemen horor-supranatural, psikologi, budaya tradisional Korea, dan drama kompetisi. Ini bukan cuma hiburan, tapi juga semacam "eksperimen sosial" yang mempertanyakan batas antara keyakinan, intuisi, dan penipuan.
Bagi penggemar K-variety yang bosan dengan format lama, atau yang penasaran dengan dunia shamanisme, saju, dan tarot Korea, acara ini wajib ditonton. Tapi viewer discretion is advised — karena ada momen-momen yang cukup intens dan mungkin bikin merinding!
Banyak penonton yang awalnya skeptis akhirnya ketagihan karena akurasi beberapa ramalan terasa "too real". Ada yang bilang ini membuktikan kekayaan budaya spiritual Korea, ada juga yang debat apakah ada unsur scripting atau editing pintar. Tapi produksi menegaskan mereka memilih "true masters" berdasarkan skill asli, bukan popularitas.
Kekurangan (opini pribadi)
Yang pertama, jumlah ronde-nya terlalu banyak, jadi pada babak penyisihan yang masih 49 peserta itu, mereka ga pakai sistem langsung keluar jika gagal tebak atau kurang akurat, tapi masih main terus, mereka pakai sistem dimana beberapa orang yang dipilih secara acak (random) oleh juri, akan membaca ramalan dan yang paling akurat akan ke babak selanjutnya.
Hal ini berdampak pada jumlah ronde yang terlalu banyak, bahkan saya lihat ada beberapa ronde di potong total ga ditunjukkin lagi (saya tahu karena pada babak ronde selanjutnya saat flashback, ada scene (adegan) jenis pertandingan yang tidak pernah saya tampak.
Bahkan ada Syaman yang bercanda, bahwa neneknya pun sudah pergi karena kecapaian ataupun sudah memutuskan komunikasi.
Yang kedua, saya tidak suka yang babak final (saat sisa tiga orang), dimana acaranya berubah dari meramal nasib jadi acara kerasukan, kesannya mirip acara berburu hantu di Indonesia jadinya. Saya tidak menonton episode terakhir babak final ini karena benar-benar bikin jelek acara ini.
Kesimpulan
Saya sendiri bukan orang yang percaya hal berbau mistis dan spiritual, tetapi tetap tertarik menontonnya karena seru, saya anggap nilai entertainmentnya menarik, biarpun mungkin ada "settingan" menurutku karena ada beberapa hal yang mencurigakan dan kayak ga 'klop' di pikiran.
Tapi saya lihat tim produksi pun benar benar berusaha maksimal membuat para penonton dan peserta untuk percaya terhadap hal hal mistis dan supernatural, ya tidak heran sih, karena memang acaranya tentang itu, jadi tidak mungkin kan yang jelek-jelek dan tidak akurat dibocorin semua secara terbuka, gimanapun pihak produksi ingin acara ini sukses dan berlanjut ke season dua.
Awal-awal mungkin agak pusing dengan istilah-istilah spiritual negeri Korea, karena tidak terbiasa. Kalau dunia spiritual Indonesia atau Chinese kan mungkin kita dikit-dikit tahu ya, tapi untuk Korea karena masih blank, awal-awal cari tahu melalui google dulu.
Nampaknya sih bakal ada season 2 mengingat cukup sukses, semoga jika beneren ada tetap lanjut, akan memperbaiki kekurangannya seperti yang saya telah sebutkan di atas.



