Googlebook: Laptop Premium Google dengan OS Baru yang Bukan Chrome OS
Google akhirnya meluncurkan kategori laptop baru bernama Googlebook beserta sistem operasi baru Googlebook OS pada Oktober 2026. Ini bukan rebranding Chromebook dan bukan Chrome OS. Googlebook OS adalah sistem operasi desktop baru yang dibangun di atas tumpukan teknologi Android (sekitar Android 17), digabung dengan fondasi desktop dari Chrome OS. Kode internalnya sebelumnya dikenal sebagai Aluminium OS.
Apa yang Membuat Googlebook Berbeda?
Chromebook selama ini sukses di segmen murah, terutama pendidikan, karena ringan, aman, dan berbasis web. Googlebook justru menyasar segmen premium. Standar hardware-nya ketat: minimal 16 GB RAM, layar sentuh, material premium (aluminium, magnesium alloy, atau carbon fiber), NPU di atas 45 TOPS, baterai hingga 14 jam atau lebih, serta Glowbar khas Google. Jadi beda target pasar dengan Chromebook.
OS-nya dirancang agar terasa familiar bagi pengguna Android, bukan hanya browser yang diperbesar. Aplikasi Android berjalan secara native (bukan melalui virtualisasi seperti di Chromebook), Chrome tetap ada untuk web, ada lingkungan Linux penuh, dan integrasi Gemini menjadi bagian inti dari interaksi sehari-hari.
Perangkat pertama diluncurkan 4 Oktober 2026 di AS (5 Oktober di Kanada, Inggris, Irlandia, Prancis, Jerman, dan Australia). Lima model awal datang dari Acer, ASUS, Dell, HP, dan Lenovo, dengan harga mulai sekitar US$899 (kira-kira Rp14–16 jutaan tergantung kurs). Di Indonesia belum ada ketersediaan resmi.
Fitur Unggulan yang Benar-Benar Baru
Magic Pointer
Magic Pointer adalah fitur paling mencolok. Kursor biasa bisa “digoyang” (wiggle) atau diaktifkan lewat shortcut untuk memanggil Gemini secara kontekstual. Arahkan ke tanggal di email dan sistem menawarkan penjadwalan kalender. Pilih beberapa gambar lalu minta digabungkan. Sorot teks panjang dan minta diringkas atau diubah. Ini bukan chatbot terpisah di sudut layar, melainkan AI yang mengikuti pointer di tempat Anda sedang bekerja.
Better Together
Better Together (integrasi ponsel) memungkinkan akses file ponsel langsung dari file manager laptop, streaming aplikasi ponsel ke layar besar, notifikasi yang sinkron, serta fitur “Continue On” agar pekerjaan yang dimulai di ponsel bisa dilanjutkan di laptop. Syaratnya ponsel harus menjalankan Android 17. Di awal peluncuran, fitur ini akan lebih stabil di Google Pixel phone; dukungan penuh terhadap Samsung Galaxy menyusul kemudian.
Ada juga Create My Widget (buat widget desktop dengan prompt natural language yang menarik data dari Gmail, Calendar, dll.), dukungan Gemini on-device yang kuat berkat NPU, serta pembaruan software hingga 10 tahun.
Googlebook memiliki integrasi ekosistem hardware dan software yang lebih baik dibanding Chromebook.
Merk dan Model Peluncuran (Ringkasan)
| Model | Harga Mulai (AS) | Prosesor | Layar | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Acer Googlebook 14 | $899 | Intel Core Ultra 5/7 | 14" 2.8K OLED | Satu-satunya 2-in-1 (bisa dilipat jadi tablet) |
| Dell XPS Googlebook | $999 | Snapdragon X Elite | 13.4" 2.5K | Ringan, baterai panjang |
| Lenovo Googlebook 15 | $1.099 | Intel Core Ultra | 15.3" 2.8K OLED | Layar terbesar |
| ASUS Googlebook 14 | $1.299 | Intel Core Ultra | 14" 3K OLED | Haptic touchpad |
| HP Googlebook 14 | $1.299 | Snapdragon X Elite | 14" 2.8K OLED | Baterai sangat panjang, face + fingerprint |
Semua dilengkapi 16 GB RAM (ada opsi 32 GB), storage minimal 256 GB, Wi-Fi 7, dan bonus 12 bulan Google AI Pro (termasuk 5 TB storage) plus langganan pendek YouTube Premium, Photoshop, dan CapCut.
Bagaimana Nasib Chromebook
Googlebook tidak menggantikan Chromebook secara langsung. Chrome OS tetap didukung hingga sekitar pertengahan 2034 untuk perangkat yang masih dalam siklus update. Banyak Chromebook baru berpotensi bermigrasi ke Googlebook OS di kemudian hari, terutama yang spesifikasinya mendekati standar Googlebook. Segmen edukasi dan enterprise tetap dilayani Chrome OS lebih lama, sementara Googlebook fokus pada konsumen premium yang sudah hidup di ekosistem Android.
Sudut Pandang Unik untuk Pengguna Android
Di pasar seperti Indonesia, di mana Android sangat dominan, Googlebook terasa seperti jawaban atas keluhan lama: “Kenapa laptop tidak paham ponsel saya sebaik MacBook paham iPhone?” Integrasi file, aplikasi, dan tugas antar perangkat jauh lebih dalam dibanding Phone Hub di Chromebook atau solusi pihak ketiga di Windows.
Namun, harganya menempatkannya di kelas premium. Bagi yang hanya butuh laptop ringan untuk browsing dan dokumen, Chromebook atau laptop Windows entry-level masih lebih masuk akal. Bagi yang sudah bergantung pada Gemini, aplikasi Android, dan ingin pengalaman desktop yang terasa “native” dengan ponselnya, Googlebook menjadi opsi yang sebelumnya tidak ada.
Ketersediaan di Indonesia masih menunggu. Kalau Google mengikuti pola peluncuran produk lain, gelombang Asia bisa menyusul di 2027, atau perangkat bisa masuk lewat impor/reseller lebih dulu.
Googlebook OS adalah percobaan serius Google untuk membuat sistem operasi desktop yang lahir dari dunia mobile dan AI, bukan sekadar menyusul Windows atau macOS. Apakah ini akan sukses di luar AS masih terbuka, tapi konsep “laptop yang benar-benar teman ponsel Android + Gemini” adalah arah yang menarik dan berbeda dari yang pernah mereka tawarkan sebelumnya.
Cuma, dengan harga premium, tidak tahu apakah pasar akan berminat? , pertanyaan lain yang ada di benakku adalah Samsung tidak ada dalam daftar yang akan merilis Googlebook, apakah penjualannya bisa tinggi?
Kita tunggu saja tanggal mainnya.


