Prospek Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia Sepak Bola
Prospek Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA (untuk tim senior putra) memang menjadi mimpi besar bagi pecinta sepak bola Tanah Air. Namun, secara realistis, peluangnya masih sangat kecil dalam waktu dekat, meski ada kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. ⚽🇮🇩
Indonesia pernah mencoba bidding untuk Piala Dunia 2022, tapi gagal karena kurangnya dukungan pemerintah saat itu. Upaya lain untuk edisi lebih awal juga tidak berhasil. Tantangan besar meliputi:
- Infrastruktur stadion — Masih sedikit stadion yang memenuhi standar FIFA (minimal kapasitas 40.000+, fasilitas modern, keamanan tinggi).
- Stabilitas politik & keamanan — Kasus Tragedi Kanjuruhan 2022 dan pencabutan hak tuan rumah Piala Dunia U-20 2023 karena isu politik menunjukkan risiko besar bagi FIFA.
- Kebijakan rotasi konfederasi — Piala Dunia senior biasanya bergilir antar benua. Setelah 2022 (Qatar, Asia), 2026 (Amerika Utara), 2030 (Spanyol-Portugal-Maroko, plus peringatan di Amerika Selatan), dan 2034 (Saudi Arabia, Asia lagi), maka Asia/Oseania kemungkinan baru kebagian lagi sekitar 2040-an atau lebih lambat.
- Kurangnya skill para pemain sepakbola, sulit bersaing dengan negara lain yang kelas piala dunia
Meski begitu, Indonesia menunjukkan progres:
- Sukses jadi tuan rumah Piala Dunia U-17 2023 (meski awalnya batal untuk U-20).
- Kembali dipercaya FIFA sebagai tuan rumah FIFA Series 2026 (pertandingan internasional senior).
- Pemerintah (era Jokowi dan lanjutan) menyatakan ambisi minimal jadi co-host Piala Dunia 2034, dengan diskusi bersama Australia, Malaysia, Singapura, atau negara ASEAN lain.
- Naturalisasi pemain dan peningkatan ranking FIFA Timnas juga membantu citra sepak bola Indonesia di mata dunia.
Karena itu untuk prospek realistis-nya adalah jangka panjang. Secara keseluruhan, menjadi tuan rumah Piala Dunia senior adalah target jangka panjang yang memerlukan transformasi besar-besaran di infrastruktur, tata kelola sepak bola, dan prestasi timnas. Kini fokus terbaik adalah sukses di FIFA Series 2026, Piala AFF, dan kualifikasi Piala Dunia berikutnya agar Indonesia semakin dipercaya FIFA.
Ikut Bidding Dengan Siapa?
Secara realistis, Indonesia tidak mungkin mampu menjadi tuan rumah sendirian, itu seperti misi yang hampir mustahil, karena itu harus merangkul negara lain. Sementara ini ada dua opsi:
*Dengan Australia
Australia pernah mengajukan bidding untuk piala dunia 2034, dan disitu mereka pernah menyebut nama Indonesia dan Selandia Baru untuk menjadi mitra bersama tuan rumah. Biarpun akhirnya mengundurkan diri dan dimenangkan Arab Saudi, bukan berarti tidak mungkin kedepannya Australia kembali mengajak Indonesia menjadi tuan rumah bersama (baik dengan Selandia Baru ikut atau tidak).
*Dengan ASEAN (Asia Tenggara)
Kira-kira Piala Dunia Tahun Berapa yang Ideal?
Untuk memperkirakan piala dunia tahun berapa yang cocok agar Indonesia menjadi tuan rumah, kita pastikan dulu masalah kebijakan rotasi konfederasi.
Piala Dunia tahun 2026 dilaksanakan di Amerika Serikat, Kanada, Meksiko yang berarti benua Amerika Utara (CONCACAF) dilarang bidding untuk tahun 2030 dan 2034.
Piala Dunia tahun 2030 dilaksanakan di Spanyol. Portugal (Eropa) dan Maroko (Afrika), kemudian juga untuk peringatan 100 tahun FIFA WORLD CUP, maka ada tambahan tiga negara Amerika Selatan sebagai tuan rumah untuh pertandingan pembuka (Argentina, Uruguay, Paraguay), yang berarti benua Amerika Selatan dianggap mengambil jatah. Sehingga benua Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan dilarang bidding untuk tahun 2034 dan 2038.
Piala Dunia tahun 2034 dilaksanakan di Arab Saudi sebagai tuan rumah. Sehingga benua Asia dilarang bidding untk tahun 2038 dan 2042.
Karena itu, yang paling realistis untuk Indonesia ikut bidding adalah tahun 2046.
Daftar Negara Asia Tenggara yang Ready
1. Indonesia
- Jakarta International Stadium / JIS (Jakarta): ±82.000 penonton.
- Stadion Utama Gelora Bung Karno / SUGBK (Jakarta): ±77.193 penonton.
- Stadion Utama Palaran (Samarinda): ±60.000 penonton.
- Stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya): ±46.806 penonton.
- Stadion Harapan Bangsa (Banda Aceh): ±45.000 penonton.
- Stadion Utama Riau (Pekanbaru): ±43.923 penonton.
- Stadion Lukas Enembe (Jayapura): ±40.263 penonton.
- Stadion Batakan (Balikpapan): ±40.000 penonton.
- Stadion Barombong (Makassar): ±40.000 penonton.
2. Malaysia
- Bukit Jalil National Stadium (Kuala Lumpur): ±87.411 penonton.
- Shah Alam Stadium (Selangor): ±80.372 penonton (saat ini sedang dalam proses renovasi/pembangunan ulang).
- Sultan Mizan Zainal Abidin Stadium (Terengganu): ±50.000 penonton.
- Tuanku Abdul Rahman Stadium (Paroi): ±45.000 penonton.
- Sultan Ibrahim Stadium (Johor): ±40.000 penonton.
- Sarawak Stadium (Kuching): ±40.000 penonton.
- Darul Makmur Stadium (Kuantan): ±40.000 penonton.
3. Kamboja
- Morodok Techo National Stadium (Phnom Penh): ±60.000 penonton.
- Phnom Penh National Olympic Stadium: ±50.000 - 70.000 penonton (kapasitas bervariasi tergantung konfigurasi tempat duduk).
4. Singapura
- Singapore National Stadium (Kallang): ±55.000 penonton. Stadion ini unik karena memiliki atap yang bisa dibuka-tutup (retractable roof).
5. Thailand
- Rajamangala National Stadium (Bangkok): ±51.552 penonton.
6. Myanmar
- Thuwunna Stadium (Yangon): ±50.000 penonton.
7. Vietnam
- My Dinh National Stadium (Hanoi): ±40.192 penonton.
Jadi secara total ada tujuh dari sebelas negara Asia Tenggara yang memenuhi syarat. Negara seperti Filipina, Laos, Brunei Darussalam, dan Timor Leste saat ini belum memiliki stadion sepak bola dengan kapasitas yang mencapai angka 40.000 penonton (rata-rata di bawah 30.000).
Untuk Filipina saya cukup optimis dalam dua puluh tahun bisa rampung satu stadion besar, Pemerintah Filipina melalui Clark International Airport and Corp (CIAC) berencana membangun stadion megah di kawasan New Clark City yang ditargetkan rampung pada 2028. Stadion ini nantinya jadi multi-fungsi, selain untuk sepakbola, juga untuk konser (seperti konser musik internasional dan acara hiburan besar).
Meskipun belum ada angka final yang dipaku, pembicaraan awal mengarah pada stadion dengan standar kapasitas internasional yang jauh lebih besar dari yang mereka miliki sekarang yaitu Phillipines Davao City–UP Sports Complex dengan kapasitas 30 ribu, dan Philippine Sports Stadium dengan kapasitas 25 ribu.
Untuk Laos, Brunei, Timor Leste, rasanya tidak ada harapan. Jadi mereka tidak akan bisa ikut sama sekali jikalau beneren Asia Tenggara ikut bidding di World Cup 2046.
Ketiga negara itu akan seperti Luxembourg saat kawasan negara blok Benelux mengajukan diri jadi tuan rumah piala dunia. Mereka ikut mendukung secara diplomatik dan promosional karena kedekatan wilayah, istilahnya pendukung dibalik layar, namun secara teknis FIFA, mereka tidak menyediakan stadion. Hanya sebagai Identitas Politik/Wilayah.


