Kegagalan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia 2026: Kontras Tajam dengan Bintang Lain yang Bersinar
Piala Dunia FIFA 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko telah menyajikan drama sejak matchday pertama. Sementara Lionel Messi, Kylian Mbappé, dan Erling Haaland tampil gemilang dengan mencetak gol-gol krusial, Cristiano Ronaldo justru gagal mencetak gol dalam laga pembuka Portugal melawan DR Congo. Pertandingan yang berakhir imbang 1-1 itu menjadi sorotan karena menonjolkan perbedaan performa para superstar dunia saat ini.
Pada laga Argentina vs Algeria, Messi mencetak hat-trick sempurna yang membuatnya menyamai rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia dengan 16 gol. Penampilan Messi di usia 38 tahun ini juga memecahkan rekor sebagai pemain tertua yang mencetak hat-trick di turnamen ini. Sementara itu, Mbappé sukses mencetak dua gol untuk Prancis dalam kemenangan 3-1 atas Senegal, sekaligus memecahkan rekor gol Olivier Giroud untuk timnas Prancis menjadi 58 gol. Erling Haaland pun tak kalah impresif, mencetak brace dalam debut Piala Dunia Norwegia yang menang 4-1 atas Irak. Ketiganya langsung menjadi pembicaraan utama soal perebutan Golden Boot.
Berbeda jauh dengan itu, Ronaldo yang tampil di Piala Dunia keenamnya - sebuah rekor - hanya mampu bermain 90 menit penuh tanpa mencetak gol maupun assist. Portugal hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan DR Congo, tim yang diunggulkan kalah telak. Gol Portugal dicetak João Neves di menit awal, tetapi Yoane Wissa menyamakan kedudukan jelang akhir babak pertama. Ronaldo sendiri melepaskan tiga tembakan tanpa satu pun mengarah ke gawang, dan statistiknya sangat mengecewakan: hanya 25 sentuhan (terendah kedua sepanjang karier Piala Dunianya), banyak operan mundur, dan gagal memanfaatkan dua peluang emas di babak kedua.
Untuk melihat live score pertandingan World Cup 2026, bisa melalui aplikasi bagol tv.
Penyebab Underperformance CR7
Banyak analis dan pakar sepak bola menyoroti beberapa faktor utama di balik underperformance Ronaldo. Pertama, kurang harmonis dengan rekan setim. Ronaldo yang kini berusia 41 tahun cenderung memainkan peran sebagai target man statis di kotak penalti, tetapi tim Portugal kesulitan menciptakan peluang yang sesuai dengan gaya permainannya. Bruno Fernandes dan rekan-rekan kreator lainnya sering kali terhambat karena pergerakan Ronaldo yang justru menyumbat ruang alih-alih membuka jalur serangan. Thierry Henry, legenda Prancis, bahkan mengkritik, “Tim butuh mencetak gol, bukan kamu yang harus mencetak gol.” Ronaldo dinilai terlalu fokus pada diri sendiri sehingga mengganggu alur tim.
Kedua, faktor usia dan fisik menjadi sorotan. Kecepatan dan daya tahan Ronaldo sudah tidak seperti dulu. Ia kesulitan menekan lawan secara intensif dan sering kalah duel. Dalam laga melawan DR Congo yang disiplin bertahan, Ronaldo hanya memenangkan dua duel udara dan hampir tidak berkontribusi dalam transisi serangan. Pelatih Roberto Martinez pun dihadapkan dilema: mempertahankan Ronaldo demi semangat tim atau mengutamakan dinamika kolektif dengan pemain muda yang lebih mobile seperti Pedro Neto atau João Félix.
Ketiga, tekanan ekspektasi dan rekam jejak baru-baru ini. Ronaldo telah gagal mencetak gol dalam 10 pertandingan besar berturut-turut untuk Portugal di turnamen mayor. Ini kontras dengan performa konsisten Messi yang masih mampu mendominasi meski usia tak jauh berbeda. Media dan fans pun ramai membahas apakah ini saatnya Portugal “drop” Ronaldo untuk kemajuan tim, meski loyalis CR7 tetap mendukungnya sebagai pemimpin.
Meski demikian, Ronaldo tetap optimis. “Ini masih jauh dari selesai,” katanya pasca-laga. Portugal masih punya kesempatan di grup K melawan Uzbekistan dan Kolombia. Namun, jika performa serupa berlanjut, ambisi juara Portugal bisa terancam, terutama mengingat persaingan ketat di babak gugur.
![]() |
| Sumber: Reuters |
Pelajaran dan Warisan
Fenomena ini menggarisbawahi evolusi sepak bola modern yang semakin menuntut kerja sama tim daripada ketergantungan pada satu bintang. Messi, Mbappé, dan Haaland membuktikan bahwa talenta muda atau pengalaman matang bisa bersinergi dengan tim. Sementara Ronaldo, meski legenda hidup dengan segudang rekor, menghadapi tantangan adaptasi di usia senja.
Bagi fans Indonesia yang gemar mengikuti Ronaldo, laga-laga selanjutnya akan menjadi ujian. Apakah CR7 bisa bangkit dan mencetak gol di Piala Dunia keenamnya, atau ini akhir dari era dominasinya? Yang jelas, Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa sepak bola adalah olahraga tim, di mana harmoni sering kali mengalahkan individualisme.



