Beriklan Digital di luar Google Ads dan Meta (facebook) Ads

Beriklan Digital di luar Google Ads dan Meta (facebook) Ads

 79percentclock - Setelah sebelumnya pernah menggunakan berbagai layanan iklan digital mulai dari Meta Ads (facebook ads, intagram, dll), Alphabet Ads (Google ads, Youtube ads, GDN, dll), Native Display Network (seperti MGID), marketplace ads (Tokopedia, Shopee, Lazada), dan Tiktok ads, kali ini saya gatal ingin mencoba alternatif lainnya.

berbagai alternatif layanan iklan digital


#1 Telegram Ads


Yang pertama ada Telegram ads, banyak yang tidak tahu jika telegram itu bisa iklan, karena memang mereka tidak fokus ke situ. Dengan adanya iklan, sebenarnya bertolal belakang dengan prinsip mereka yang mengutamakan privacy sebagai faktor utama.

Tanpa ada data dan personalisasi, mereka harus tembak iklan ke mana? ya, terpaksa mereka mengakali hanya bisa memasang iklan disebuah group atau channel dengan topik tertentu, jika ada orang yang bergabung pertama kali ke Telegram group atau Telegram Channel itu, akan melihat iklannya.

Dan cukup sulit untuk melakukan iklan di Telegram, karena tidak seperti google dan facebook ads, kamu harus melakukan pengajuan ke pihak Telegram, mengisi formulir dan menunggu kapan dihubungi oleh pihak telegram. Saya sendiri tidak pernah dihubungi setelah menunggu beberapa bulan, entah karena pas pengajuan terlalu kecil angka budget atau apa, yang pasti penantian tanpa ketidakpastian bukanlah sesuatu yang layak untuk dicoba.

#2 Twitter / X ads


Sebelum dipegang Elon Musk, ini Twitter Ads sebenarnya sudah hancur, dan saat dipegang oleh Elon Musk, lebih hancur lagi. Kali ini Twitter ads yang sudah mengganti nama dengan sebutan X Ads, wajib punya badge biru alias Subscribe Premium X Pro yang harganya 180 ribu rupiah per bulan baru boleh iklan.

Selain masalah itu, yang saya kom.plain adalah di masalah CS (customer service) yang hancur, saya pernah mencoba iklan, masih barang putih bukan produk abu-abu (saya iklan parfum), dan gambarnya pun cuma botol, terus tulisan deskripsi pun tidak yang aneh-aneh, tapi ditolak tanpa kejelasan, terus saya mencoba beberapa kali menghubungi pihak CS, tapi tidak pernah ada tanggapan setelah menunggu berbulan-bulan. Jadi ya mereka tidak akan menghiraukan sama sekali, beda dengan pihak Google ataupun Facebook.

Keunikan dari X ads pas saya lihat di ads managernya adalah seperti penggabungan Keyword dan target audiences (seperti interest, dll), jadi kayak gabungan Google dan Meta.

Penempatan (ads placement) cuma ada 4, Home Timelines, Profiles, Search Results, dan Replies. Dulu perasaan ada hashtag deh, tapi ga nampak di sini. Dashboard-nya mirip Google ada Campaign - Ad Groups - Ads.

Di Indonesia, sangat jarang yang main sosial media yang satu ini, jadi saya rasa beriklan di platform X ga penting, kecuali jika mau iklan untuk pasar luar negeri seperti Singapore gitu.

#3 Quora Ads



Platform yang satu ini adalah sebuah tempat tanya jawab dan diskusi, kadang yang bertanya boleh jadi anonim, jadi sangat bebas mengemukakan pendapat tanpa rasa takut. Biasa sih orang-orang disini punya intelektual dan IQ yang di atas rata-rata, punya pengetahuan yang lebih luas dan open minded. 

Saya sendiri belum pernah mencobanya, karena saat saya mau menjalankan iklan, eh terkena restrict akun iklan saya (akun Quoranya sih aman, tapi ya ga bisa iklan), saat saya menghubungi customer servicenya Quora, ternyata wajib menggunakan bahasa inggris, tidak boleh bahasa lain.

Ya cukup emosi juga sih, karena saya sudah baca di peraturan dan kebijakan iklan, tidak pernah dibahas sama sekali soal itu, jadi asal main restrict akun iklan oleh robot Quora tanpa kejelasan.

Keunikan Quora ads dibanding lainnya adalah memilih target iklan berdasarkan topik dan pertanyaan, jadi sesuai dengan tujuan utama platform yang berisi pertanyaan-pertanyaan. Jadi saat orang menanyai sesuatu di Quora, mencari pertanyaan, atau mencari jawaban atas sebuah pertanyaan, itu yang akan menjadi sasaran target.

#4 SnackVideo Ads

Platform video pendek yang mirip dengan Tik Tok ini (sama-sama juga buatan China) juga memilik Ads / iklan, tetapi tidak terkenal, yang disebut Snack Ads. 

Saya belum mencobanya karena wajib isi formulir dulu, terus apply ke perusahaan SnackVideo, menunggu di approve. Menurut saya itu bikin merepotkan, saingan mereka yang jauh lebih besar yaitu Tik Tok saja tidak sampai begitu. Sehingga saya tidak pernah mencobanya sama sekali.

Terakhir saya lihat, mereka baru merilis fitur boost video, mungkin sekitaran akhir bulan januari. Tapi saya sudah merasa ilfil sebelumnya, jadi ga akan mau mencoba, lagipula SnackVideo kebanyakan isinya bot (yang like, view, komen mayoritas bot dari SnackVideo). 

Cuma saya pernah lihat sekilas fitur ini memang sudah ada, dan harga minimal iklannya lebih mahal dari TikTok, jika di TikTok biaya iklan Boost video termurah adalah 12 ribu rupiah. Di Snack Video Ads, wajib minimal 30 ribu rupiah baru boleh Boost video.


#5 LinkedIn Ads

Saya dengar iklan di sini yang paling mahal dari semuanya, tetapi memang tertarget, karena isinya berupa perusahaan, penguasaha, pencari pekerjaan, serta pebisnis. Nanti deh kapan-kapan saya coba.

KESIMPULAN

 Kesimpulan saya adalah tidak ada satupun di atas yang saya rekomendasikan, masih belum layak dan belum bisa sebagus duo monopoli platform layanan iklan digital sekelas Meta (facebook) ads dan Google ads.
Share:
Next Post Previous Post