Kisah Juki Darmawan, Kreator Asal Kalteng yang Sukses Beli Rumah dari Hasil Konten
Jakarta, 79percentclock.com – Di era digital, profesi content creator sudah bukan sekadar hobi. Banyak anak muda yang menjadikan dunia konten sebagai sumber penghasilan utama. Salah satunya adalah Juki Darmawan, kreator digital asal Sukamara, Kalimantan Tengah yang dikenal dengan nama panggung Ooh Darmawan.
Perjalanan Juki di dunia konten dimulai sejak tahun 2020. Bermodalkan ponsel dan koneksi internet, ia mulai mengunggah video-video hiburan, edukasi, hingga keseharian. Awalnya hanya iseng, namun konsistensi membuat audiensnya terus bertambah. Hingga pertengahan 2026, total followers Juki sudah mencapai 183 ribu. Rinciannya, 94 ribu di Instagram @jukidarmawan.id
56 ribu di Facebook, dan 33 ribu di TikTok @jukidarmawan.id
Angka itu bukan hanya sekadar angka. Dengan basis pengikut yang loyal, Juki mulai dilirik brand untuk kerja sama. Tawaran endorse, paid promote, afiliasi, hingga menjadi brand ambassador mulai berdatangan. Dari sinilah ia menyadari bahwa profesi sebagai konten kreator bisa menjadi karir jangka panjang jika dikelola dengan benar.
Berbeda dengan kebanyakan anak muda seusianya, Juki Darmawan memilih untuk tidak menghabiskan semua penghasilannya untuk gaya hidup. Ia lebih memilih untuk berinvestasi. Keputusan besarnya adalah membeli rumah di Kalimantan. Bagi Juki, properti adalah aset yang nilainya akan terus naik seiring waktu.
"Saya nggak mau uang yang didapat dari konten habis begitu saja. Saya pikir harus ada yang ditabung, ada yang diinvestasikan. Rumah itu bentuk investasi nyata yang bisa dirasakan manfaatnya nanti," ujar Juki.
Menurutnya, menjadi content creator itu tidak mudah kita harus memikirkan konten, suara pengisi,tema konten dan masih banyak lagi tantangan nya Tapi bagi Juki Darmawan yang gemar berbicara bahasa Inggris
itu justru memotivasinya untuk lebih kreatif. Ia memanfaatkan semua platform yang ada mulai dari TikTok, Instagram, hingga Facebook untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Juki juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan dari followers. "Kalau kita jujur sama audiens, mereka akan terus dukung kita. Jangan asal terima endorse. Pilih brand yang memang sesuai sama diri kita," katanya.
Selain properti, Juki juga mulai menyisihkan uang untuk tabungan dan modal usaha kecil. Ia tidak ingin hanya bergantung pada satu sumber penghasilan. Di matanya, dunia digital sangat dinamis. Hari ini viral, besok bisa sepi. Karena itu penting punya "jaring pengaman" finansial.
Kisah Juki Darmawan menjadi bukti bahwa anak muda dari daerah juga punya peluang yang sama besar. Dengan internet, siapa pun bisa membangun personal branding dan mengubahnya menjadi sumber penghasilan.
Ia berharap kisahnya bisa menginspirasi kreator lain, terutama yang berada di luar kota besar. "Jangan minder karena kita dari daerah. Mulai aja dulu dari HP. Konsisten bikin konten, belajar, dan jangan lupa atur keuangan. Kalau udah ada rezeki, sisihkan buat masa depan," tutup Juki Darmawan.



