Penyanyi yang Pergi ke Tempat yang Hampir Tak Pernah Dikunjungi Musisi Lain: Tur Dunia Luar Biasa Joss Stone

Penyanyi yang Pergi ke Tempat yang Hampir Tak Pernah Dikunjungi Musisi Lain: Tur Dunia Luar Biasa Joss Stone

Ketika mendengar istilah world tour, kebanyakan orang langsung membayangkan konser di kota-kota besar seperti New York, London, Tokyo, Paris, atau Sydney. Padahal, banyak tur yang disebut "tur dunia" sebenarnya hanya mengunjungi segelintir negara. Penyanyi soul asal Inggris, Joss Stone, memutuskan untuk mengubah makna sebenarnya dari sebuah world tour.

Pada tahun 2014, Joss Stone memulai Total World Tour, sebuah proyek yang terdengar hampir mustahil: menggelar konser di setiap negara di dunia. Selama lima tahun berikutnya, ia menjelajahi gurun, pulau-pulau terpencil, wilayah yang dilanda konflik politik, hingga negara-negara kecil yang nyaris tidak pernah masuk dalam jadwal tur artis internasional. Alih-alih hanya mengejar penjualan tiket, ia ingin bertemu dengan masyarakat setempat, berkolaborasi dengan musisi lokal, dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan amal di setiap negara yang dikunjunginya. Hingga tur tersebut berakhir pada 2019, ia telah menjadwalkan sekitar 260 pertunjukan.

Joss Stone in one of the World Concert
Joss Stone | Sumber: Billboard

Yang membuat tur ini begitu istimewa bukan hanya jumlah konsernya, tetapi juga lokasi-lokasi yang dipilih. Joss Stone tampil di berbagai negara yang hampir tidak pernah menjadi tujuan konser artis dunia, seperti Korea Utara, Yaman, Irak, Eritrea, berbagai negara kepulauan kecil di Pasifik, hingga Antarktika. Di Antarktika, salah satu penampilannya bahkan berlangsung di hadapan para peneliti, dengan "penonton" yang tak biasa—koloni penguin di sekitarnya. Banyak konser digelar secara sederhana di pusat komunitas, hotel, atau gedung kebudayaan, bukan di stadion atau arena besar. Hal ini membuktikan bahwa musik dapat menjangkau siapa saja, di mana saja.

Perjalanan tersebut tentu tidak selalu berjalan mulus. Kerusuhan politik, transportasi yang sulit, kendala visa, hingga persoalan keamanan berkali-kali mengancam kelangsungan tur. Momen paling dramatis terjadi pada Juli 2019 ketika Stone berusaha menuntaskan perjalanan di Iran. Sesaat setelah tiba, ia dideportasi oleh pihak berwenang sebelum konser sempat diselenggarakan. Akibatnya, misinya untuk tampil di setiap negara di dunia harus berakhir hanya selangkah lagi dari garis finis.

Meski demikian, pencapaiannya tetap menjadi sesuatu yang belum pernah dilakukan musisi lain. Joss Stone menjadi musisi pertama yang memperoleh sertifikasi "World Tour Certification" dari Guinness World Records, setelah berhasil menggelar konser di 190 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam satu rangkaian tur dunia. Rekor tersebut menegaskan bahwa tur yang ia jalani benar-benar mencakup hampir seluruh dunia, bukan sekadar berfokus pada pasar musik terbesar.

Yang paling mengesankan dari Total World Tour mungkin bukanlah rekornya, melainkan cara Joss Stone mengubah cara pandang tentang arti sebuah tur konser. Ia menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari stadion yang penuh sesak atau pendapatan yang fantastis. Sebuah konser di pulau kecil yang terpencil bisa memiliki makna yang sama besarnya dengan pertunjukan di kota metropolitan. Melalui perjalanan ini, Joss Stone membuktikan bahwa musik mampu melampaui batas negara, budaya, bahkan situasi politik, menjadikan Total World Tour sebagai salah satu ekspedisi musik paling luar biasa yang pernah dilakukan seorang penyanyi.

Share:
Previous Post